About

26/08/11

Mumpung fullmoon

X : Hari ini tanggal berapa sih?
Y : Tanggal 15 Juni jo..
X : Wah pantesan bulannya bulet dan gede banget!
Y : Emang kenapa kalo tuh bulan gede bulet?
X : Pengen romantis-romantisan dikit :p
Y : Aheey..
(Maaf, ini pembicaraan ababil zaman sekarang yang sok gaol gitchu dyech..)


Ini merupakan hasil olah pikir selama 3 detik sambil mengagumi fullmoon sambil ngedengerin lagu Moon on the Water mantab Nda..

25/08/11

Ngabuburit Sahur

Tee..tet...Tee..tet... suara handphone terdengar dari samping laptop tanda short message masuk.
Jam dinding sudah menunjukkan angka 5 (jarum panjang) dan jarum pendek di antara angka 11 sama 12, isi smsnya mengajak untuk keluar lumayan lah membuat paru-paru nyeri tergores angin malam. Kalau dipikir-pikir siap orang koplo yang tega sms menuju dinihari? Yeah..absolutly mbakbro Anisah -_-"a

Awalnya kami udah berencana untuk hangout bareng di malam hari (baca: ngabuburit sahur). Berhubung gagal terus awalnya, akhirnya dengan sedikit nekat kami putuskan untuk nge-real-in hari selasa kemarin lusa.


Harinya pas banget deh, besuk hari rabu pertama kuliah hahaha...kan minggu lalu kita upacara bendera (Mahmudah, 2011)
Aku sih memang sengaja begadang biar nggak kebablasan dengan rencana start jam 11 malam. Ternyata mbakbro telat ngirim sms sebagai tanda start dimulai (ceilee..kayak lomba maraton aja). Langsung aja aku gas motor ke daerah Galunggung, tempat kosnya mbakbro yang sangat agamis (deket pesantren boy). Setelah menjemput mbakbro di depan gang kosnya, kita keliling-keliling aja (maklum blind destination) mulai dari jalan raya Dieng-Retawu-Ijen-Bandung-Garut. Nah di jalan Garut (kalo gak salah baca) tempatnya di belakang POM Bensin jalan Bandung ada taman pertigaan yang dipasangi tiang lampu dan lampu kelip-kelip yang dibuat menjadi bentuk-bentuk unik. Mbakbro minta berhenti di sini buat foto-foto jadi ya monggo di cek (maaf hasilnya lumayan jelek) :
Gaya anak muda zaman kini #mbakbro


Lampu kelap-kelip di tiang
Next destination adalah bangunan tua karena ini permintaan mbakbro jadi rencana ke FO Cargo tapi tutup, jadi ke Bunderan Balai Kota (baca : Bunderan Tugu) via jalan Garut-Bandung-Sutami-Gajayan-M.T.Haryono-SoekarnoHatta-Borobudur-Sutoyo-A.Suprapto-Pattimura-Suropati-Tugu. Langsung saja ini fotonya :)
Kolam teratai dan Balai kota di balik jeruji


Mbakbro sedang nge-check hasil fotonya


Teratai yang 'fotosintesis' dengan sinar lampu :p


eh..ada lampu, aku foto di sana yah!


Pandan dan Terang
Ketenangan bioma buatan ini memberikan aura positif bagi perenung, selain juga banyak spot unik yang enak buat dieksplorasi lagi. Oke..kami lanjutkan perputaran roda si kuda besi, sasaran selanjutnya adalah Ijen Nirwana Residance (saran mbakbro) menyusuri jalan Tugu-Basuki Rahmat-Merdeka Utara-Merdeka Timur-KH. Agus Salim-Gatot Subroto-Pasar Besar-Kyai Tamin-Sutan Syahrir-Ade Irma-Hasyim Ashari-Kawi-Ijen Nirwan. Jalan masuknya lebar banget dan lumayan sepi (maklum menjelang waktu santap sahur), melewati portal masuknya aman-aman saja masihan dan terus aja lempeng sampai ketemu bunderan pohon gede (kayaknya pohon asem-Tamarindus indica) yang horor banget (inget film Harry Potter and The Chamber of Secrets). Nah awal permasalahan muncul setelah kita berhenti di lorong di pinggir jalan, tempatnya memang cocok jadi spot hunting foto lho. Baru nyalain kamera, eh ada bapak naik mio merah menanyakan identitas dan tujuan ke area itu malam-malam. Then..langsung kita disuruh ke pos jaga buat tanda tangan surat pernyataan (kita nunggu setengah jam di lorong, kedinginan, belum makan dan gak boleh foto). Yups..ingat Ndes JANGAN LUPA IZIN PETUGAS BERWENANG KEMANAPUN KAMU PERGI KE SUATU DAERAH
Maaf mas-mbak, di sini memang ada aturan tidak boleh mengambil foto. Takutnya ada apa-apa kan kami security-nya yang ditegur sama pihak Manajemen. Soalnya dulu pernah kejadian foto di sini dan di upload di FB, kami kecolonganSuryadi, petugas security Ijen Nirwana Residance, 2011
Nah itulah kalau kita kurang perencanaan, bakal dapat kejutan yang Full Colour of Your Life, trust me it work! Ciao :)

14/06/11

Bulan Gini di Perantauan

Bulan Juli, Juni, Agustus tiap tahunnya selalu dingin di Malang. Padahal di bulan-bulan lainnya nggak kayak gitu lo.. Mungkin istilah IT-nya restart cuaca kali ya :)
Jadi gini ceritanya, tiap pagi bangun di atas jam 05.00 WIB karena asik 'melungker' dan colekan angin subuh yang hem..bikin tambah asik membenamkan tubuh di dalam selimut. Abis bangun langsung buka laptop+online sambil nonton TV (mohon dimaklumi, bulan ini kampus masih masa tamasya non-aktif perkuliahan) sampai siang. Setelah itu keluar cari makan sebungkus, online lagi atau langsung molor melanjutkan tradisi masyarakat Jawa mbatik dalam konteks lain (ngiler). Sorenya bangun tidur dengan jiwa yang masih separoh (mungkin masih digondol hantu lewat, diajak maen ke 'rumahnya') ambil remote dan mecet tombol ON. Malam harinya setelah makan (biasanya sih lalapan) buka laptop lagi, online lagi sampe jam 23.00 WIB atau kalo gak jam 01.00 WIB.
Yah mungkin temen-temen pada mikir, "Kenapa gag mudik aja atau liburan kemana gitu, paling enak kan ngisi liburan kuliah kayak gitu!". Kenyataannya gag seperti itu boy-sist, percayalah bahwa Universitas Negeri Malang kami yang tercinta tertua di Kota Bunga ini sedikit/mungkin banyak mbalelo sama aturan pemerintah. Mahasiswa disuruh bayar SPP untuk 1 semester dengan masa efektif + 3 bulan, bayangin coba this is corruption. Oke..oke..kita tinggalin masalah satu ini, itu bukan urusan kita selama KPK belum kena SP (Surat Pailit). Kita fokus sama masalah masa libur panjang (triwulan), apalagi abis itu masuk kuliah 'cuma' 1 minggu di saat puasa (sori..saya tidak menunaikan ibadah yang satu ini) terus libur HR Idul Fitri. Bukannya saya sok pinter, sok aktivis, atau apalah namanya (asli Gan..saya ini songong abis) tapi setidaknya saya mempertanyakan uang dari orang tua+uang jajan pula.
Sepertinya pembicaraan kita udah ngelantur kemana-mana deh, baik kembali ke first page, yaitu problematika saya di malang selama bulan-bulat terdingin di malang selama 1 tahun. Baiklah saya mulai lagi pembicaraannya, um..malah bingung sendiri abis nulis paragraf terakhir ini.
Mungkin cukup sekian dulu postingan saya (maaf kapasitas HD otak saya sudah panas) jadi semoga bisa kita lanjutkan kapan-kapan lagi :)

13/06/10

Pilih Pantat atau Sakit?!

Ini adalah rekaman dari jalan-jalan ke Wisata Bahari Lamongan (WBL) tahun 2009 saat liburan semester 1 SMA dulu. Nah apa yang akan kalian pikirkan tentang rekaman ini? Rekaman ini dibuat untuk mensosialisasikan wahana yang waktu itu sepi banget, yang kesana aja cuman delapan orang. Namanya Rodeo yang menduplikat olahraga ekstrim di Amerika sana, pada versi mininya si Banteng dibuat dari atom yang keras. Perlu diperhatikan waktu menaiki banteng atom ini:
1. Apakah pantat kamu cukup berlemak?

2. Apakah pantat kamu kenyal?
3. Apakah pantat kamu bau tengik?
Pertanyaan terakhir ini sangat perlu karena jika pantat kamu bau tengik kasihan pengunjung selanjutnya yang ingin naik wahana itu. Oh iya ada satu lagi, sebaiknya memakai pelindung kelamin, ini berdasarkan pengalamanku. Waktu itu aku mengalami kesulitan buang air kecil bahasa jawanya ‘anyang – anyangen’ dan lost my egg beberapa menit. Jadi wahana ini sangat tidak disarankan untuk dicoba.
video

Perjalanan Menuju Liburan

Setelah sekian lama dan menjalani berbagai ujian yang menegangkan sekaligus mengharukan akhirnya aku bisa liburan. Tepatnya setelah aku selesai ujian remidi Biokimia tanggal 4 Juni 2010 hari Jumat di ruang BIO 205. Jadi hari itu setelah keluar ruangan aku sama anak-anak pada masang muka bego sebego-begonya, serasa cuci otak pake Sunligh ditambah Bukrim terus digosok pake abu gosok dan dibilas pake air keras. Sesaat kami merenungi nasib di depan gedung Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang yang dibanggakan. Tiba-tiba aja Erma (nama samaran) langsung kalap dan menangis, suasana chaos dan mengharu biru.
Setelah kejadian tadi aku langsung pulang ke kosan dan menetralisir suasana hati dengan ngedengerin kicauan kenari seharga Rp. 170.000,00 yang suaranya aduhai amboi rasanya. Barang – barang yang mau dibawa pulang udah selesai aku pack dan rencananya sih naik bus, tapi akhirnya gag jadi dan nebeng sama Imam temen satu kosan naik motor. Berangkat jam 15.30 WIB lewat jalan Malang – Bendungan Lahor – Selopuro – Kanigoro – Blitar – Tulungagung – Trenggalek dan sampai rumah jam 18.40 WIB (ya sekitar tiga jam tanpa berhenti). Selama perjalanan ini kita beberapa kali bersinggungan dengan Aremania yang berjalan ke arah yang berlawanan.
Waktu itu memang ada acara makan gratis di stadion Gajayana dan ada acara Kickfest di lapangan Rampal, jadi rame banget Malang. Aremania ini ada yang bawa bendera Arema Indonesia (mungkin buat euforia); bawa syal (Malang kan dingin kalau malem); bawa tikar (buat duduk di lapangan nanti); bawa anak – istri (buat nemenin, di rumah sengaja gag masak soalnya); bawa pacar (biar kelihatan gimana gitu..); bawa tongkat, bambu, kayu (mungkin kalau pas menunya mie kan bisa dibuat sumpit). Sampai di bendungan Lahor kita keujanan padahal pengin berhenti buat istirahat sebentar (di sini adalah spot buat para biker buat istirahat menikmati sunset). Untungnya masuk Tulungagung sudah terang dan perjalanan pulang yang cukup melelahkan ini sedikit terobati dengan cuaca yang cerah sampai menginjakkan kaki di depan rumah.

10/06/10

Bejo=Untung?

Mungkin banyak teman-temanku dari SD dan SMA yang manggil aku dengan nama Bejo daripada nama asli Putra. Bahkan bisa dipastikan gak lebih dari separo yang tau dan hafal nama asliku ini. Sebernanya sih julukan Bejo ini punya arti yang bagus banget yaitu Untung, orang-orang jawa zaman dulu aja bangga banget dengan nama ini. Tapi kalo buat temen-temen mungkin kayak aneh aja manggil aku Bejo soalnya muka-muka es serut kok bisa lucky terus hahahaha… . Kadang-kadang aku bengong (memang sudah menjadi pekerjaan) mikirin bagaimana awal mulanya julukan Bejo bisa aku sandang selama 7 tahun lebih.
Pada suatu masa, tepatnya hari Selasa 30 Juli 1991 seonggok eh..seorang bayi lahir di dalam kamar operasi, setelah kepalanya ditarik-tarik oleh dokter yang saat itu baru selesai cebok sudah dipanggil-pangil suster buat ngeluarin tuh bayi. Setelah keluar dengan bau badan kayak bau tai, bayi yang sejatinya aku sendiri ternyata jatuh sakit setelah + 3 minggu di dalam inkubator, saat lahir katanya sih lemah banget. Setelah itu dirawat di RS Soedomo Trenggalek, seminggu di sana dokter dan suster gak berhasil nyembuhin aku malah tambah parah katanya. Akhirnya dikirimlah aku ke RS Karang Menjangan Surabaya, di sana diketahui penyebab penyakitku ini yang ternyata komplikasi dari bau badan yang sudah bermutasi dan menyerang sistem kekebalan tubuh, seandainya aku udah bisa ngomong pasti udah aku kutuk dan sumpahserapahin tuh dokter. Tiga bulan berjalan aku dinyatakan sembuh dan boleh pulang ke rumah, setelah menghabiskan satu kolam air mata Ibu dan almh. Nenek. Nah pas aku udah balik ke Trenggalek dan ketemu sama dokter anak (bukan dokter yang narik-narik kepalaku tadi), dia membuat statement yang bikin shock selama 10 detik, yaitu “Tak kiro awakmu ra bakalan selamet le..”. Dan akhirnya suasana kembali tenteram setelah si dokter ngomong “Bejo tenan awakmu”. Itu adalah salah satu sejarah dalam hidupku tentang terbentuknya istilah bejo yang berlanjut sampai sekarang.
Oke.. sekarat eh sekarang kita lanjutin cerita gimana istilah bejo ini bisa segitu populernya di kalangan temen-temen. Waktu itu masih eSDe kelas empat pas jam kosong aku yang masih belepotan ‘iler’ ngobrol sama Redho temenku yang anak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Nah coba pikirin anak kelas empat yang masih bloon kalau ngobrol itu ngobrolin apa? Waktu itu aku dengan bangganya mengumumkan ke Redho bahwa aku bakalan punya nama alias kayak pahlawan super gitu, yaitu Bejo (sekarang setelah dipikir-pikir itu adalah aib). Redho sendiri sih dengan antusias menyimak dan mendukung ide gila ini, gak lama kemudian pengumuman ini udah menyebar ke seluruh kelas. Semenjak itu tiap hari aku dipanggil Bejo, meskipun awalnya aku sendiri merasa tereksploitasi dengan aib yang aku ciptakan sendiri, tetapi lama-lama udah terbiasa dan kadang-kadang aku nyahutnya kalau dipanggil Bejo bukan Putra.
Setelah keluar SD akhirnya aku nerusin ke SMP meskipun bukan di SMP favorit yang notabene banyak temen SD yang masuk ke sana, tetapi aku bisa lebih enjoy dan gak bakalan dapet olokan Bejo lagi. Itu pikiranku waktu pertama masuk, eh… di SMP yang baru ini muncul olokan baru lagi, Potret, memang peribahasa “Lain ladang lain belalang” bener banget. Potret muncul di saat film Harry Potter and The Chamber of Secreat lagi rame-ramenya, katanya sih kayak Si Pemeran Utama (hahaha menurut kamu?). Selama tiga tahun di SMP olokan Bejo benar-benar hilang ditelan waktu meski kadang masih ada jika ketemu temen SD. Sampai akhirnya aku lulus SMP dan diterima di SMA 1 yang membuatku ketemu lagi sama temen-temen SD.
Masa-masa SMA sih enak banget seru-seruan bareng dan semuanya menyatu banget di SMA. Di tengah-tengah suasana kegembiraan ini ternyata olokan Bejo ini muncul lagi dan dicetuskan pertama kali sama Ayuk, nih anak adalah temenku dari anaknya temen Bapakku yang aku kenal akrab pas SMP. Ayuk tuh anaknya ceplas-ceplos doyan nyerocos, katanya sih dia tau olokan ini dari si Redho pas ikut les (untuk diketahui aku ikut les yang isinya dulu banyak temen SD). Nah kembali ke persoalan, karena Ayuk juga, seluruh warga SMA dari yang seangkatan sampai kakak kelas banyak yang tau nama aku Bejo daripada Putra bahkan merembet ke adik kelas, pas SMA aku ikut banyak ekskul sih jadi lumayan dikenal. Begitulah akhirnya nama ini juga terus berlanjut sampai sekarang di dunia perguruan tinggi, walaupun gak semuanya manggil Bejo tapi trademark itu udah terpatri di otak temen-temen. Dari semua hal yang aku rasain dari olokan masa kecil ini adalah semoga hidupku ini sama kayak arti nama itu B E J O = U N T U N G. Amin.

Matakuliah ini kok gini?

Awal masuk semester dua kemarin ada beban yang dicampur rasa seneng dalam hati. Beban karena ternyata punya IP terendah sekelas dan harus mengulang matakuliah yang sudah jadi monster gede buat aku, M-A-T-E-M-A-T-I-K-A. Memang selama semester satu banyak hal yang perlu aku hadapi mulai adaptasi suasana kos baru, temen baru, budaya baru, dan suasana perkuliahan dengan seabrek jadwalnya. Oh iya ada satu masalah lagi, jika kamu dari daerah Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Ponorogo dan sekitarnya terus ngerencanain atau lagi kuliah di kota Malang atau Surabaya, siap-siap aja ngebiasain kuping ngedengerin kata-kata “rek..rek.. dan rek..”. Hasil survei yang aku lakuin di semester pertama dari temen-temen yang istilahnya ‘daerah kulonan’ hanya sekitar 25% yang ngaku sukses memodifikasi kupingnya buat kata “rek” ini gak sampai seminggu. Lainnya..? ya ada yang butuh tiga minggu, satu semester, malahan ada yang gak bisa adaptasi sampai sekarang.
Ada satu hal yang unik, temanku Halle yang kuliah di Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang Jurusan Teknik Informatika, membuat satu gebrakan baru dia menjadikan bahasa ‘Nggalek-an’ menjadi bahasa wajib pergaulan di kelas dan kosnya, seharusnya dia jadi Mbakyu Trenggalek dengan predikat Mbakyu Perantauan dan juga pelestari budaya daerah.
Oke kita concern lagi ke masalah IP di semester satu yang jeblok gara-gara Matematika. Jadi waktu itu pertama kali tatap muka dengan Bapak Dosen di kelas, aku merasa wah nih bapak stylish banget kalau di kartun tv nih kayak Detective Kogoro Mouri yang dandy dalam komik/serial Detective Conan. Awalnya sih kayak gitu dan lagi caranya ngasih materi juga enak dan cepet nyambung (waktu itu…) tapi setelah diadakan tes pertama, ya ampun susaaahhh-nya gak keturutan. Aku aja cuma dapat nilai 20 kalau gak salah, yang lain? Gak jauh-jauh amat sih yang tertinggi kalo gak salah 70 (yang aku maksud gak jauh-jauh mata itu ‘si nilai tertinggi duduk di belakangku’). Di ujian-ujian matematika yang lain juga sama aja, dari tiga kali tes nilai tertinggi yang aku dapet ya nilai 20 itu.
Akhirnya di semester dua ini aku berjanji buat berubah, tapi… ternyata gak semudah itu soalnya baru selesai ngurusin KRS eh ada gosip beredar di semester dua ini ada ibu dosen yang killer dari tiap kelas yang pernah diampunya, hanya 40% yang dilulusin malahan banyak yang gak dilulusin 100%, SARAAAPP. Matakuliah yang begitu terkutuk dengan datangnya dosen ini adalah BIOKIMIA, oh iya..ini adalah salah satu matakuliah yang jadi momok buat mahasiswa Kimia dan Biologi. Aku inget banget hari pertama kuliah di ruang BIO 205, anak-anak kayak anak TK ingusan yang baru masuk sekolah, petak umpet sambil ngintip di balik pintu. Pas lagi asik-asiknya ngintip dari dalam ruangan terdengar suara high heels yang lebih mirip suara sepatu kuda ‘teplak..teplok..teplak..teplok..’, anak-anak tegang, dalam sekejap teriakan kayak nenek sihir lagi PMS menggema di penjuru ruangan lantai 2. Setelah ngacir masuk kelas dan cari tempat duduk di belakang (cari yang aman), dan karena DNA-ku ada gen lemur jadi kaki ini lemot buat diajak ngacir cari kursi, alhasil aku dapet kursi paling depan dekat meja dosen. Suasana chaos mendominasi selama 150 menit dan gak ada yang masuk otak selain bayang-bayang ibu dosen yang mirip nenek sihir. Akhirnya selama satu semester ini hanya rasa susah, horor, dan kegagalan yang terbentuk, meski gak semua anak ngerasa gitu, tapi buat anak-anak ‘medium’ khususnya aku dengan IQ ngangkang ini sudah dituliskan buat gak lulus.

Blog I come back!

Huuufth… mungkin ini kata-kata yang pertama kali bisa aku keluarin. Yups setelah mengumpulkan banyak energi (setelah kehilangan energi buat berak sampai keringetan segalon) dan berbagai pertimbangan serta usulan dari teman-teman akhirnya aku mulai lagi jadi blogger amatiran bau kentut. Emang sih sebelumnya sudah ada blog yang ‘terpaksa’ aku bikin untuk tugas TIK (abis nyelesain tugas akhirnya vakum dan dihapus). Meskipun awalnya terpaksa ternyata ada juga manfaat ngeblog ini, misalnya buat cari-cari alasan pergi ke warnet, sampai numpahin uneg-uneg hati dan pikiran. Sesuai dengan nasihat salah satu penulis biografi Indonesia saat ini ”Menulis itu adalah cara terbaik buat menumpahkan pikiran dan perasaan serta mengasah ‘rasa’ seseorang”. Wuih pas denger itu kata-kata langsung deh mulai meyusun rencana buat ngubah cita-cita dari gak jelas menjadi penulis (sejak kecil didagnosis kena penyakit bloongelinglung stadium lanjut). Tapi memang sepertinya muka-muka kayak aku gini gak bakalan mungkin hehehe… soalnya ngomong aja masih belepotan.
Setelah dicek lagi ternyata catatannya gak ada yang lulus LSM (Lembaga Sensor Menulis), malahan setelah diidentifikasi sama ahli forensik kepolisian (gak nyambung dan maksa banget) gak ada bedanya sama ‘cekeran pitik’. Akhirnya dengan wajah ngegondok aku putuskan buat mengetik saja yang hurufnya udah diakui dunia Internasional. Tapi aku pengin ngetik apa ya buat menarik pengunjung? Itu adalah pertanyaan pertama yang aku pikirkan saat di depan layar computer. Akhirnya ya nulis ini cerita yang setelah dibaca berulang-ulang gak bakalan paham maksudnya. Mungkin setelah ada orang yang ngeliat bakalan ngedumel “ih..tulisan kok norak gini masih nekat?”, tanggapanku sih “hahaha…”, sesuai filosofi Rinso Berani kotor itu baik, jadi setidaknya ketikan ini bisa mengasah kelihaian jari dalam mengetik.

08/06/10

Alasan Ngeblog Lagi

Semuanya berawal dari rasa stess yang menumpuk dan mulai membebani otak dan pikiran.Sampai pada titik puncak aku mengalami kegilaan akut (ketawa liat kucing diperkosa anjing) dan menangis sampai ngesot-ngesot liat kucing puasa buat ritual nyantet anjing. Oke dari semua hal ini aku mulai mendapat pencerahan dari temen yang udah senior dalam bidang ngeBlog, Rizo (nama disamarkan) yang katanya ngeblog bisa untuk mencurahkan isi hati dan pikiran serta menyehatkan fisik (baca: senam jari tangan). Setelah dipikir-pikir ada benernya juga tuh anak jadi this is it!, mengutip kata-kata chef Farah Quinn yang hemm..aduhainya (makanannya maksudku..ngeres aja nih!). Akhir kata terima kasih dan selamat membaca dan sebelumnya disarankan buat membawa tas keresek atau ember buat muntah.